Beranda PERSPEKTIF Wagub Sumbar: Peran Perantau Dalam Memajukan Pembangunan Sumbar

Wagub Sumbar: Peran Perantau Dalam Memajukan Pembangunan Sumbar

12

Sumbar, kabardaerah.com – Wakil Gubernur Provinsi Sumatera Barat, Nasrul Abit menegaskan, pembangunan Sumatera Barat tak terlepas dari peran perantau. Ia menegaskan, peran perantau sangat besar dalam memajukan kampung halamannya.

“Pembangunan Sumatera Barat dari dahulu tidak pernah lepas dari sinegritas peran perantau dan ranah. Rasa kasih sayang yang tinggi dari perantau ke kampung,  ibunda,  sanak famili dan keluarga dalam kaum yang membuat peran itu tumbuh dan berkembang,” ujarnya ketika menghadiri acara silaturrahmi Keluarga Besar Minang Mahimbau (KBMM)  Bukittinggi, Jumat malam, 30 Maret 2018.

Hadir dalam acara ini Wamen ESDM, Arcandra, Kapolda Sumbar Irjen Pol. Fakhrizal, Anggota DPR-RI  Mulyadi,  Hakim MK Prof. Dr. Saldi isra, SH.MH., dan beberapa tokoh Minang lainnya.

Apatah lagi, ungkap Nasrul Abit, jika seseorang diamanahi gelar pusaka Datuk yang memiliki kewajiban memperhatikan anak dan kemenakan kaum, baik di kampung halaman maupun yang di ranah. Saat ini pembangunan Sumatera Barat terus mengalami peningkatan yang senigfikan. Dari kunjungan wisata yang berkunjung ke Sumatera Barat tahun 2017 telah mencapai lebih dari 7,4 Juta pengunjung, baik lokal maupun mancanegara.

“Dari jumlah penerbangan, berdasarkan laporan Angkasapura yang kami terima, jumlah penerbangan telah mencapai 3,9 juta penerbangan tahun 2016. Ini lebih cepat dari prediksi Angkasapura dengan kapasitas 2,4 juta Bandara Internasional Minangkabau (BIM), baru akan tercapai pada tahun 2020. Saat ini, Angkasapura telah berjanji akan meningkatkan kapasitas penerbangan menjadi 5,2 juta ditahun 2019. Dengan menambah bangunan dan fasilitas lainnya, meningkatkan pelayanan BIM agar lebih baik lagi,  karena BIM saat ini sudah penuh sesak,”  ungkapnya.

Dikatakannya, ia saat ini ditugasi Gubernur untuk melepaskan tiga daerah tertinggal, yaitu Pasaman Barat,  Solok Selatan dan Mentawai, lepas dari kategori daerah tertinggal. Disamping memajukan pembangunan pariwisata dan pengurangan angka kemiskinan di tiga daerah tersebut.

“Kita berharap, pada tahun 2019 ketiga daerah tersebut bisa keluar dari kategori daerah tertinggal,  jika tidak tentu menunggu lima tahun lagi tahun 2024. Meningkatkan pembanguan daerah merupakan harga diri dan martabat masyarakat Sumatera Barat, baik di ranah maupun di rantau. Karena dalam persaingan diera pasar global, fasilitas sarana dan prasarana daya saing Sumatera Barat masih perlu banyak yang dibenahi pada 19 kabupaten dan kota, termasuk tiga daerah tertinggal tersebut,” pungkasnya.

Ia mengatakan, Mentawai memiliki potensi ekonomi masyarakat berupa pisang,  kopra dan cengkeh, namun terkendala mahalnya biaya transportasi,  sehingga pendapatan petani menjadi rendah. Misalnya saja, di Sinyau Nyau, hasil tangkapan ikan nelayan hanya dibagi-bagikan saja ke masyarakat karena mereka tidak bisa menjual disebabkan tidak adanya transportasi kapal yang membawa ke pasar. Disamping itu, potensi ikan Mentawai belum maksimal karena belum ada pabrik es yang bisa berproduk secara maksimal.

“Ini salah satu contoh,  termasuk di daerah Solok Selatan,  masih ada daerah yang belum dialiri listrik, sekolah jauh  dan belum ditembusi jalan masih terisolir. Upaya peningkatan pembangunan Sumatera Barat  yang PAD masih belum memadai,  cakupan beban yang cukup berat ada penambahan pegawai sesuai UU 23/2014 tentang pemerintah daerah mengharuskan kerja keras dan inovasi seluruh komponen masyarakat Sumatera Barat, baik di rantau maupun di ranah untuk mewujudkan kesejahteraan hidup masyarakat,” tukuknya.

Menurutnya, peranserta perantau Minang di seluruh dunia dengan berbagai profesi yang dimiliki dengan “sato sakaki” sangat penting. Peran perantau diharapkan dengan keiklasan dan penuh kepedulian karena kemajuan Sumatera Barat merupakan kebanggaan bersama, sebagai wujud kecintaan akan kampung halaman dan ranah bundo kanduang.

 

Benteng Sumbar