Pesisir Selatan, KabarDaerah.com – Di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang tengah berjalan, masyarakat peladang Nagari Punggasan Timur, Kecamatan Linggo Sari Baganti, Kabupaten Pesisir Selatan, justru menunjukkan inisiatif luar biasa. Puluhan warga bahu-membahu memperbaiki jalan Labuang menuju Air Singkarak melalui kegiatan gotong royong pada Rabu (8/7/2026).

Jalan sepanjang lebih kurang dua kilometer itu merupakan akses utama bagi para peladang untuk mengangkut hasil pertanian dari lahan ke pemukiman dan pusat perekonomian. Kondisi jalan yang rusak dan berlumpur selama ini kerap menyulitkan mobilitas warga, terutama saat musim hujan tiba.

Rabu pagi, suasana berbeda terlihat di jalur Labuang menuju Air Singkarak, Nagari Punggasan Timur. Puluhan warga tampak sibuk dengan cangkul, sekop, dan gerobak dorong. Mereka bahu-membahu memperbaiki jalan yang selama ini menjadi keluhan utama para peladang setempat.
Kegiatan gotong royong ini mendapat perhatian serius dari Pemerintah Nagari Punggasan Timur. Wali Nagari Punggasan Timur, Arif Jumardi, S.E.I., turun langsung mendampingi warga bersama jajaran perangkat nagari. Kehadirannya bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk komitmen nyata pemerintah nagari dalam mendukung inisiatif masyarakat.
Dalam sambutannya di tengah kegiatan, Arif Jumardi menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat gotong royong di tengah keterbatasan anggaran pemerintah.
“Kita harus mengiatkan kembali semangat gotong royong untuk membangun nagari. Pemerintah saat ini mengalami efisiensi anggaran. Karena itu, mari kita giatkan semangat gotong royong. Ini adalah solusi paling tepat dan sudah menjadi budaya kita sejak dahulu,” ujar Arif Jumardi di hadapan para peserta gotong royong.
Ia menambahkan bahwa jalan usaha tani merupakan infrastruktur vital yang menentukan kelancaran roda perekonomian masyarakat. Tanpa akses yang layak, hasil panen akan sulit dipasarkan dan nilai jualnya pun ikut menurun.
“Jalan ini adalah urat nadi perekonomian kita. Jika jalan ini rusak, maka petani kesulitan mengangkut hasil bumi ke pasar. Biaya transportasi membengkak dan keuntungan petani tergerus. Kita tidak bisa terus bergantung pada bantuan pemerintah saja. Sudah saatnya kita bergerak bersama,” tegasnya.
Kegiatan gotong royong ini juga dihadiri oleh Ketua Bamus Nagari Punggasan Timur, Syamsul Bahri. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap inisiatif masyarakat.
“Saya sangat mengapresiasi semangat kebersamaan yang ditunjukkan warga hari ini. Gotong royong adalah warisan leluhur yang harus terus kita pelihara. Dengan kebersamaan, pekerjaan berat terasa ringan. Mari kita jaga semangat ini, bukan hanya hari ini, tetapi seterusnya,” ujar Syamsul Bahri.
Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan nagari bukan semata tanggung jawab pemerintah. Masyarakat sebagai subjek pembangunan memiliki peran yang sama pentingnya.
“Jangan pernah berpikir bahwa pembangunan hanya tugas wali nagari atau pemerintah. Kita semua adalah pemilik nagari ini. Jika kita bersama-sama bergerak, tidak ada yang tidak mungkin kita capai,” tambahnya.
Tokoh adat Nagari Punggasan Timur, Amiruddin Dt Mangkuto Basa, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran tokoh adat ini memberikan nuansa tersendiri, mengingat gotong royong merupakan bagian tak terpisahkan dari falsafah hidup masyarakat Minangkabau.
“Menurut adat kami, gotong royong adalah cerminan dari rasa persaudaraan dan kebersamaan. Ketika kita bekerja bersama untuk kepentingan bersama, maka berkah akan menyertai setiap langkah kita. Ini sudah diajarkan oleh nenek moyang kita sejak zaman dahulu,” tutur Amiruddin Dt Mangkuto Basa.
Pantauan di lapangan, kegiatan gotong royong berlangsung dengan tertib dan aman. Warga bekerja dengan kompak, saling bergotong royong mengangkat batu, menuangkan material pengerasan jalan, dan meratakan permukaan. Suasana kekeluargaan sangat terasa, dengan warga saling membantu dan bergantian beristirahat.
“Kami sudah biasa gotong royong seperti ini. Daripada menunggu bantuan yang tidak pasti, lebih baik kami bergerak sendiri. Hasilnya pun bisa langsung kami rasakan,” ujar seorang peladang bernama Marjoni sambil terus meratakan jalan dengan cangkul.
Menurut rencana, perbaikan jalan ini akan dilanjutkan pada pekan-pekan mendatang dengan pengerasan menggunakan material batu dan kerikil yang dikumpulkan secara swadaya oleh masyarakat. Pemerintah nagari berjanji akan memfasilitasi kebutuhan logistik dan peralatan yang diperlukan.
Dengan rampungnya perbaikan jalan Labuang-Air Singkarak, para peladang kini dapat mengakses lahan pertanian dengan lebih mudah. Biaya angkut hasil panen diharapkan dapat ditekan, sehingga pendapatan petani meningkat. Ini adalah bukti nyata bahwa gotong royong mampu menjadi solusi efektif di tengah keterbatasan anggaran pemerintah.
“Kami berharap semangat gotong royong ini terus hidup dan menjadi contoh bagi nagari-nagari lain. Kita tidak boleh menunggu semuanya dari pemerintah. Mari kita bangun nagari kita bersama-sama,” pungkas Arif Jumardi mengakhiri kegiatan. (EF)










