Jangan Jadikan Kemenangan Rakyat sebagai Hak Istimewa Segelintir Lingkaran

‎Ditulis Oleh : Ir. Yoserizal Nasution
‎(Ketua Umum Gema Macan Asia, ‎Inisiator Forum Komunikasi Nasional 08)

 

KETIKA RELAWAN DIPADAMKAN, SEBAGIAN DIHIDUPKAN. Jangan Jadikan Kemenangan Rakyat sebagai Hak Istimewa Segelintir Lingkaran

‎Ada sesuatu yang sedang tidak sehat dalam hubungan antara kekuasaan dan relawan. Bukan karena ada organisasi yang dikukuhkan, bukan pula karena ada kelompok yang memperoleh ruang lebih dahulu.

‎Yang mengusik adalah ketika sebagian relawan tiba-tiba mendapatkan cahaya pengakuan, sementara sebagian lainnya perlahan dipadamkan dari ingatan.

‎Inilah yang harus dipertanyakan. Apakah kemenangan tahun 2024 benar-benar kemenangan seluruh rakyat atau perlahan sedang dipersempit menjadi kemenangan segelintir kelompok yang memiliki akses lebih dekat kepada kekuasaan?

‎Pertanyaan ini bukan tuduhan. ‎Ini adalah peringatan, sebab jika pemerintah ingin membangun konsolidasi nasional, maka pondasinya tidak boleh diletakkan diatas rasa kecewa, ketidakjelasan dan persepsi ketidakadilan.

‎RELAWAN HADIR SEBELUM KEMENANGAN

‎Relawan tidak lahir setelah kemenangan, mereka hadir ketika kemenangan belum pasti. Mereka bergerak ketika belum ada jabatan yang dapat diberikan, mereka mengeluarkan uang ketika belum ada fasilitas yang menunggu.

‎Mereka membuka posko, membangun jaringan, mengorganisasi masyarakat, mengantar pesan politik dari satu daerah ke daerah lain dan bekerja ditengah masyarakat tanpa kepastian akan mendapatkan apa pun setelah pemilu selesai.

‎Mereka bekerja bukan karena kursi, mereka bergerak bukan karena proyek, mereka berjuang karena keyakinan. Karena itu, sangat tidak pantas jika setelah kemenangan diraih, sejarah perjuangan mereka tiba-tiba menjadi kabur.

‎Lebih tidak pantas lagi apabila pengakuan kemudian hanya mengalir kepada kelompok-kelompok tertentu tanpa penjelasan yang terbuka mengenai apa kriterianya, siapa yang menentukan dan atas dasar kontribusi apa.

‎PENGAKUAN TANPA KRITERIA AKAN MELAHIRKAN KECURIGAAN

‎Kami tidak mempersoalkan hak siapa pun untuk mendapatkan ruang, yang kami persoalkan adalah ketidakjelasan standar.

‎Jika sebuah organisasi dianggap layak menjadi representasi relawan, maka pertanyaannya sederhana:

‎Apa ukurannya?
‎Apakah berdasarkan jumlah anggota?
‎Apakah berdasarkan struktur organisasi?
‎Apakah berdasarkan rekam kegiatan?
‎Apakah berdasarkan kontribusi pada pemenangan?
‎Apakah berdasarkan jaringan akar rumput?
‎Atau justru berdasarkan kedekatan?
‎Kalau kriterianya objektif, bukalah kriterianya.

‎Kalau prosesnya transparan, jelaskan prosesnya. Kalau memang ada verifikasi, publikasikan mekanismenya. Sebab dalam negara demokrasi, pengakuan publik terhadap sebuah organisasi bukanlah perkara kecil.

‎Semakin besar legitimasi yang diberikan, semakin besar pula tuntutan transparansinya.

‎JANGAN MEMBUAT KELAS BARU DIANTARA RELAWAN

‎Inilah bahaya yang jauh lebih besar. Jangan sampai muncul : relawan kelas satu dan relawan kelas dua. Yang dianggap mitra dan yang dianggap pelengkap, yang diundang dan yang hanya diingat ketika dibutuhkan, yang diberikan ruang dan yang diminta menunggu tanpa kepastian.

‎Jika pola seperti ini dibiarkan, maka kita bukan sedang membangun konsolidasi. Kita sedang memproduksi kekecewaan dan kekecewaan yang terus-menerus diabaikan pada akhirnya akan berubah menjadi ketidakpercayaan.

‎Pemerintahan yang kuat tidak boleh membangun pondasi sosialnya dengan cara seperti itu. Jangan padamkan mereka yang dahulu menyalakan api perjuangan.

‎KAMI TIDAK MENUNTUT BALAS JASA

‎Perlu ditegaskan : Kami tidak meminta kursi. Kami tidak meminta proyek. Kami tidak meminta fasilitas. Kami tidak meminta keistimewaan.

‎Yang kami tuntut adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana yaitu KEADILAN DALAM KESEMPATAN.

‎Jika seseorang atau sebuah organisasi memiliki rekam kerja yang nyata, berikan kesempatan. Jika mereka memiliki kemampuan mengorganisasi rakyat, dengarkan. Jika mereka mempunyai jaringan sampai tingkat akar rumput, manfaatkan. Jika mereka mampu membantu program pemerintah, libatkan.

‎Ukur kami dari kerja. Nilai kami dari kontribusi. Bukan dari kedekatan.

‎DISINILAH UJIAN BAGI HASYIM

‎Jika benar ingin menghidupkan kembali kekuatan relawan sebagai bagian dari konsolidasi nasional, maka pengukuhan tidak boleh berhenti pada seremoni.

‎Hasyim Djojohadikusumo dan siapa pun yang berada dalam proses konsolidasi tersebut memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa ruang itu tidak berubah menjadi ruang eksklusif.

‎Setidaknya ada tiga hal yang harus dijawab :

‎1. TRANSPARANSI

‎Apa kriteria organisasi yang mendapatkan pengakuan?

‎2. REPRESENTASI

‎Apakah organisasi akar rumput yang benar-benar bekerja memiliki kesempatan yang sama?

‎3. AKUNTABILITAS

‎Apakah organisasi yang dikukuhkan dapat menunjukkan struktur, rekam kerjandan legitimasi sosialnya?

‎Jika ketiganya dapat dijawab dengan terbuka, maka tidak ada persoalan. Tetapi jika tidak, jangan salahkan publik apabila muncul pertanyaan:

‎“Apakah ini benar-benar konsolidasi relawan, atau hanya konsolidasi lingkaran tertentu?”

‎PEMERINTAH JANGAN MENABUNG KECEWA

‎Pemerintah mungkin merasa bahwa persoalan relawan adalah persoalan kecil. Kami justru melihat sebaliknya.

‎Relawan adalah bagian dari energi sosial yang membantu memenangkan kontestasi politik. Mereka adalah jaringan komunikasi paling dekat dengan masyarakat. Mereka mengetahui persoalan desa. Mereka memahami keresahan rakyat. Mereka mengetahui apa yang dirasakan petani, nelayan, pelaku UMKM, pemuda, perempuan, komunitas, dan masyarakat kecil.

‎Jika mereka kecewa, persoalannya bukan hanya soal perasaan. Yang hilang adalah kepercayaan dan pemerintahan tidak dapat bekerja maksimal tanpa kepercayaan masyarakat.

‎JANGAN HIDUPKAN SEBAGIAN, LALU MATIKAN YANG LAIN

‎Kami tidak meminta semua organisasi harus berada dalam satu wadah.

‎Tidak.

‎Demokrasi justru memungkinkan banyak wadah. Tetapi banyak wadah harus tetap memiliki kesempatan yang adil untuk berkontribusi. Karena itu, pesan kami sangat jelas:

‎Hidupkan seluruh energi rakyat. Jangan hanya menyalakan lampu diruangan tertentu lalu memadamkan cahaya ditempat lain.

‎Indonesia tidak kekurangan orang yang mau bekerja. Indonesia hanya perlu memastikan bahwa orang yang mau bekerja tidak kalah oleh orang yang lebih dekat dengan kekuasaan.

‎INI BUKAN PERLAWANAN. INI PERINGATAN.

‎Kami tidak sedang membangun oposisi. Kami tidak sedang mencari musuh. Kami tidak sedang menyerang pemerintahan. ‎Justru karena kami ingin pemerintahan ini kuat, kami menyampaikan kritik ini sekarang.

‎Sebelum kekecewaan menjadi apatisme. Sebelum apatisme menjadi ketidakpercayaan. Sebelum ketidakpercayaan berubah menjadi perpecahan.

‎Kemenangan Prabowo-Gibran bukan milik satu organisasi. Bukan milik satu kelompok. Bukan milik satu lingkaran. Kemenangan itu dibangun oleh jutaan suara Rakyat Indonesia. Maka jangan sampai setelah rakyat memberikan kemenangan, hanya sebagian yang dianggap penting.

‎KALAU INGIN KONSOLIDASI, BUKALAH PINTU

‎Kami menawarkan jalan yang sederhana : Data relawan dibuka. Organisasi diverifikasi. Kontribusi dicatat. Kriteria diumumkan. Kesempatan diberikan secara adil.

‎Setelah itu, biarkan masyarakat menilai siapa yang benar-benar bekerja. Tidak perlu perang klaim. Tidak perlu perang spanduk. Tidak perlu perang pengaruh. Biarkan rekam jejak yang berbicara.

‎SEBAB PADA AKHIRNYA, SEJARAH AKAN BERTANYA

‎Ketika kemenangan masih menjadi impian, siapa yang berdiri?
‎Ketika perjuangan masih berat, siapa yang bergerak?
‎Ketika tidak ada panggung, siapa yang bekerja?

Dan ketika kemenangan akhirnya datang. Siapa yang mengingat mereka?

‎Jangan sampai sejarah mencatat bahwa sebagian relawan dihidupkan untuk menjadi wajah kemenangan, sementara sebagian lainnya dipadamkan setelah tugasnya dianggap selesai.

‎Itu bukan konsolidasi. Itu adalah seleksi pengakuan dan jika seleksi itu tidak dibangun di atas ukuran yang objektif, maka ia hanya akan melahirkan satu hal:

‎KEKECEWAAN BARU DITENGAH BANGSA YANG SEHARUSNYA SEDANG BERSATU

‎Karena itu, kami menyerukan : BUKA RUANGNYA. JELASKAN KRITERIANYA. HARGAI REKAM JEJAKNYA. LIBATKAN AKAR RUMPUTNYA. JANGAN TEBANG PILIH DALAM MENGHARGAI PENGABDIAN.

‎Sebab kemenangan politik boleh berakhir pada hari pemungutan suara, tetapi tanggung jawab kepada rakyat tidak pernah berakhir.

‎RELAWAN BUKAN BEKAS PERJUANGAN. RELAWAN ADALAH ENERGI RAKYAT YANG MASIH HIDUP

‎Jangan padamkan mereka. Satukan mereka. Berikan kesempatan yang adil kepada mereka. Karena Indonesia yang kuat bukan dibangun oleh mereka yang paling dekat dengan kekuasaan.

‎Indonesia yang kuat dibangun oleh mereka yang paling nyata bekerja untuk rakyat.

 

 

Editor  :  Alwis Ray

Editor: Alwis Ray

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *