Ribuan Bibit Mangrove dan Puluhan Tukik Disiapkan untuk Aksi Konservasi di Pesisir Selatan

 

PESISIR SELATAN, KABARDAERAH.Com— Kawasan Konservasi Penyu Amping Parak di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, akan menjadi lokasi aksi penanaman mangrove dan pelepasan tukik pada Minggu (26/7/2026). Kegiatan yang digagas oleh Jurnalis Lingkungan Hidup ini merupakan bagian dari peringatan Hari Mangrove Sedunia sekaligus respons terhadap ajakan Menteri Lingkungan Hidup untuk pelestarian ekosistem pesisir.

Panitia pelaksana menyatakan persiapan telah mencapai 90 persen. Undangan telah dikirimkan kepada pemerintah daerah, anggota DPR RI dan DPD RI, Forkopimda, Forkopimca, aparat penegak hukum, instansi vertikal, organisasi kemasyarakatan, komunitas lingkungan, akademisi, hingga tokoh masyarakat. Seluruh elemen diharapkan hadir untuk menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Kegiatan ini menjadi bentuk dukungan nyata terhadap Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 10 Tahun 2026 yang mengajak seluruh komponen bangsa melakukan aksi pelestarian ekosistem pesisir. Dalam surat edaran tersebut, pemerintah menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam upaya rehabilitasi mangrove dan perlindungan satwa dilindungi.

 

Ketua Panitia, Soni, S.H., M.H., M.Ling, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai gerakan kolektif, bukan sekadar peringatan tahunan. Berbagai persiapan teknis telah dilakukan agar kegiatan berjalan lancar dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan.

“Alhamdulillah, persiapan terus kami matangkan. Undangan telah kami distribusikan. Kami berharap seluruh pihak hadir dan menunjukkan kepedulian terhadap kelestarian mangrove dan habitat penyu di Amping Parak,” ujar Soni kepada Wartawan, Kamis (23/7/2026).

Ia menjelaskan, penanaman mangrove memiliki manfaat strategis dalam memperkuat benteng alami pantai dari abrasi dan perubahan iklim. Sementara itu, pelepasan tukik menjadi simbol komitmen menjaga keberlangsungan satwa yang dilindungi.

“Kami ingin kegiatan ini menjadi simbol bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Menanam mangrove berarti melindungi garis pantai, melepas tukik berarti memberi harapan bagi populasi penyu,” tegasnya.

 

Pemilihan Amping Parak sebagai lokasi kegiatan didasarkan pada nilai ekologis kawasan tersebut. Selain menjadi tempat pendaratan penyu untuk bertelur, kawasan ini memiliki hamparan mangrove yang berfungsi sebagai pelindung garis pantai dan habitat berbagai biota laut.

Berdasarkan data pengelola kawasan, tiga jenis penyu langka rutin mendarat di pantai ini, yaitu penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu hijau (Chelonia mydas). Ketiganya termasuk spesies yang dilindungi karena populasinya terus menurun akibat perburuan dan kerusakan habitat.

Keberhasilan konservasi di Amping Parak tidak lepas dari perubahan perilaku masyarakat setempat. Masyarakat yang dulunya mengambil telur penyu kini menjadi pelindung. Mereka secara sukarela menjaga pantai dari predator dan aktivitas manusia yang mengancam keberlangsungan hidup penyu.

Ekosistem mangrove di kawasan ini juga menjadi penyangga kehidupan nelayan setempat. Mangrove berfungsi sebagai tempat pemijahan ikan, kepiting, dan udang yang menjadi sumber pendapatan utama masyarakat pesisir.

 

Panitia menargetkan kegiatan ini menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, legislatif, aparat penegak hukum, komunitas lingkungan, dan masyarakat. Soni mengajak seluruh elemen untuk terlibat aktif.

“Kami mengajak masyarakat, pelajar, mahasiswa, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, hingga media massa untuk hadir dan ikut menanam mangrove. Semakin banyak yang terlibat, semakin besar manfaat yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang,” ucapnya.

Selain penanaman mangrove, acara akan diisi dengan pelepasan tukik ke habitat alaminya. Kegiatan ini diharapkan menjadi simbol harapan bagi kelestarian populasi penyu di pesisir barat Sumatera.

 

Mengusung tema “Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang”, peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 di Amping Parak diharapkan melahirkan gerakan berkelanjutan. Panitia ingin kegiatan ini tidak berhenti pada satu hari, tetapi menjadi awal dari upaya panjang menjaga hutan mangrove, melestarikan satwa dilindungi, dan memperkuat ketahanan kawasan pesisir terhadap perubahan iklim.

Soni menutup pernyataannya dengan harapan besar. Baginya, jurnalisme lingkungan tidak cukup hanya dengan memberitakan. Ia ingin hadir langsung di tengah masyarakat sebagai bagian dari gerakan konservasi.

“Semakin banyak tangan yang menanam mangrove hari ini, semakin besar peluang anak cucu kita menikmati pesisir yang lestari di masa depan,” pungkasnya.

 

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pelestarian lingkungan adalah investasi jangka panjang. Setiap batang mangrove yang ditanam dan setiap tukik yang dilepasliarkan adalah harapan bagi masa depan bumi yang lebih baik. Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata, langkah-langkah kecil seperti ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan masih terus hidup dan bergerak.

(Reporter: Efrizal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *