PESISIR SELATAN, KABAARDAERAH – Jembatan Usahatani yang menghubungkan Kampuang Lagan Kaciak dan Kampuang Lagan Mudiak di Kenagarian Lagan Mudiak Punggasan, Kecamatan Linggo Sari Baganti, Kabupaten Pesisir Selatan, masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah. Jembatan sepanjang 6 meter dan lebar 3 meter ini merupakan akses vital bagi para petani karet setempat untuk mengangkut hasil tani mereka. Namun, kondisi jembatan yang masih berlantaikan batang kelapa dan belum permanen menjadi kendala besar bagi warga.
Jembatan ini bisa dikatakan sebagai urat nadi bagi para petani di wilayah tersebut. Sebelumnya, jembatan ini bisa digunakan berkat swadaya masyarakat setempat. Namun, seiring waktu, kondisi jembatan semakin memprihatinkan dan memerlukan perbaikan permanen untuk memastikan kelancaran aktivitas pertanian dan transportasi warga.
Pemerintah Nagari Lagan Mudiak Punggasan, melalui Penjabat (PJ) Nagari Dinul Hasmi, mengakui keterbatasan anggaran yang dimiliki. Pada tahun 2024, pihak Nagari telah mengalokasikan dana sebesar Rp 20 juta untuk pemasangan pondasi penahan tebing di sekitar sungai yang rawan terkikis air. Namun, dana tersebut dinilai belum cukup untuk membangun jembatan permanen.
“Kami berharap pada tahun 2025 ini, pemerintah kabupaten dapat memberikan solusi permanen untuk jembatan ini. Sebelumnya, kami sudah mengajukan proposal permohonan bantuan berupa legder dan besi plat untuk jembatan, tetapi belum ada realisasi,” ujar Dinul Hasmi, PJ Nagari Lagan Mudiak Punggasan, pada Senin (10 Maret 2025).
Kondisi jembatan yang masih berlantaikan batang kelapa membuat aktivitas transportasi warga, terutama para petani karet, menjadi sangat sulit. Setiap hari, jembatan ini dilintasi oleh warga yang membawa hasil tani, termasuk karet, ke pasar atau tempat pengolahan. Ransam, salah seorang tokoh masyarakat setempat, menceritakan betapa pentingnya jembatan ini bagi warga.
“Jembatan ini sangat dibutuhkan oleh warga. Saya pernah membeli material untuk rumah, dan karena jembatan ini tidak bisa dilintasi mobil, saya terpaksa menggunakan jasa angkut khusus. Biaya yang seharusnya hanya Rp 200 ribu untuk satu mobil, akhirnya membengkak menjadi Rp 400 ribu karena harus diangkut secara manual. Jika jembatan ini sudah permanen, tentu mobil bisa melintas dengan mudah,” ujar Ransam.
Warga setempat berharap agar pemerintah kabupaten segera menindaklanjuti permohonan mereka. Jembatan permanen tidak hanya akan memudahkan transportasi hasil tani, tetapi juga meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. “Kami berharap pemerintah bisa melihat kondisi kami dan segera membangun jembatan permanen. Ini bukan hanya tentang kenyamanan, tapi juga tentang kelangsungan hidup kami sebagai petani,” tambah Ransam.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian kapan pembangunan jembatan permanen akan dimulai. Warga Nagari Lagan Mudiak Punggasan tetap berharap agar pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi masalah ini, mengingat jembatan tersebut merupakan infrastruktur vital bagi kehidupan sehari-hari dan perekonomian masyarakat setempat. (EF)












