Tanah Datar// kabardaerah.com
Di Nagari Sumpur, tanah yang dulu dipijak dengan tenang kini berubah menjadi tubuh bumi yang retak. Deru Batang Sumpur yang biasanya menjadi denyut kehidupan, kini menjelma arus liar yang menyeret rumah, kenangan, dan rasa aman warganya. Setidaknya 15 rumah hilang tanpa jejak, terseret banjir bandang yang menerjang tiba-tiba, sementara 23 rumah lainnya kini berdiri rapuh, menunggu waktu, tak lagi layak ditinggali.
Di tengah wajah-wajah letih para pengungsi yang kini tersebar di tiga posko darurat, kebutuhan paling dasar masih menjadi tantangan nyata. Genset, Sembako, dan selimut menjadi barang paling diburu, seakan menjadi jembatan rapuh yang menghubungkan mereka dengan rasa aman yang sudah terputus sejak air bah datang.
Menjawab kecemasan itu, Bupati Tanah Datar Eka Putra bersama Dandim 0307 Letkol Inf Agus Priyo Pujo Sumedi turun langsung menyusuri tanah amblas dan pemukiman yang sudah berubah bentuk pada Minggu (30/11) Di lapangan, kondisi yang ditemui tak kalah luka dari cerita warga: jalan terputus, pondasi rumah terkoyak, dan aliran sungai yang tak lagi dikenali bentuknya.
Kehadiran bupati bukan sekadar melihat. Di hadapan warga dan relawan yang berjibaku, ia langsung melakukan video call dengan Kepala BWSS V, Naryo Widodo, menunjukkan kondisi sungai Batang Sumpur yang kini melebar dari 25 meter menjadi sekitar 60 meter—sebuah perubahan dramatis yang memperlihatkan betapa besar daya hantam bencana ini.
“Ini sudah tak lagi soal kerusakan biasa. Ini ancaman serius bagi keselamatan warga,” ujarnya kepada BWSS, meminta penanganan cepat. Pemerintah daerah mendesak penurunan alat berat seperti Excavator dan Bulldozer untuk menahan pergerakan tanah dan membuka kembali akses bagi warga dan relawan.
Di lokasi pengungsian, Bupati Eka Putra juga menyalurkan Beras, Mie instan, Selimut, Susu anak, dan satu unit Genset, sebagai penopang awal kebutuhan para korban. Bantuan itu diserahkan langsung, satu per satu, sembari mendengar keluh dan takut yang tak bisa dituliskan sepenuhnya dalam laporan formal.
“Melalui Dinas Kominfo, kita sudah membuat flyer resmi penerimaan bantuan. Kita ingin semua pihak tahu: Tanah Datar sedang berduka dan butuh uluran tangan,” tutur Bupati Eka Putra, menegaskan bahwa pemulihan tidak akan mudah, tetapi tidak akan dibiarkan berjalan sendiri.
Di Sumpur, air memang sudah surut.
Namun luka di tanah, dan luka di hati para warganya, masih menunggu dirawat perlahan.
Dan hari ini, pemerintah menunjukkan satu hal: bahwa harapan belum hanyut sepenuhnya( B.Doys)












