PESISIR SELATAN, KABARDAERAH.Com– Sebuah tragedi kembali menyentak komunitas pedesaan di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Seorang warga perempuan berusia 65 tahun, Gustimar yang akrab disapa Mar, ditemukan tewas terseret arus Sungai Tanuak pada Minggu (14/12/2025) malam. Kejadian ini mengungkap kembali risiko yang mengintai di kehidupan agraris masyarakat yang akrab dengan alam.
Berdasarkan Laporan Tuntas Polsek Koto XI Tarusan yang diperoleh redaksi, kronologi bermula dari sebuah aktivitas harian yang rutin. Sekitar pukul 14.00 WIB, Gustimar terlihat oleh seorang tetangga, Jasman (46), sedang menyeberangi Sungai Aia Kaciak Lubuak Buayo di Kenagarian Barung-Barung Balantai. Ia tengah menggiring ternak sapi miliknya. Pemandangan yang biasa bagi warga di wilayah berbukit dan dialiri banyak sungai kecil itu.
Namun, pada pukul 16.00 WIB, Gustimar tak kunjung pulang. Kekhawatiran mulai menyergap keluarganya. Suaminya segera berinisiatif mencari sang istri ke sepanjang bantaran sungai. Dua jam pencarian seorang diri tidak membuahkan hasil. Merasa cemas, sang suami kemudian melaporkan kehilangan itu kepada warga sekitar pukul 18.00 WIB.
Dengan cepat, semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Minang bergerak. Puluhan warga bahu-membahu melakukan pencarian. Mereka menyusuri aliran Sungai Barung-Barung Balantai, memeriksa setiap lubuk dan tepian. Pencarian yang dilakukan dalam suasana mencekam itu akhirnya membuahkan hasil, namun berakhir dengan kabar duka.
Sekitar pukul 20.00 WIB, di aliran Sungai Lubuk Lenong, anak sungai dari Sungai Tanuak yang berjarak sekitar satu kilometer dari titik penyeberangan awal, jenazah Gustimar ditemukan. Lokasinya tepat di belakang bangunan SD 42 Barung-Barung Balantai Tengah. Tubuh tak bernyawa ibu rumah tangga itu berhasil dievakuasi oleh warga dan anggota Polsek yang telah datang ke lokasi.
Kapolsek Koto XI Tarusan, Iptu Irfan Chandra, S.H., bersama personelnya segera mendatangi TKP dan rumah duka. Dalam proses tersebut, pihak keluarga korban menyampaikan sikap yang tegas. Mereka telah membuat pernyataan tertulis yang menolak dilakukannya tindakan autopsi (bedah jenazah) terhadap almarhumah.
Lebih dari itu, keluarga juga menyatakan penerimaan atas musibah ini dengan sikap lapang dada. “Pihak keluarga korban sudah menerima hal ini dengan ikhlas sebagai musibah dan kemudian membuat pernyataan untuk tidak dilakukan autopsi dan tidak akan menuntut secara hukum dikemudian hari,” demikian bunyi laporan polisi yang dirilis.
Polisi telah memeriksa tiga orang saksi, termasuk Jasman yang pertama kali melihat korban, serta dua warga lain yang terlibat dalam pencarian, Eka Putra (43) dan Yenda (38). Langkah standar prosedur seperti pendatangan TKP, evakuasi, dan pemeriksaan saksi telah dilakukan. Laporan resmi kemudian disampaikan kepada pimpinan Polres Pesisir Selatan pada pukul 22.00 WIB di hari yang sama.
Tragedi Gustimar bukan sekadar statistik kecelakaan. Ini adalah potret nyata dari kehidupan masyarakat desa yang sehari-harinya berinteraksi langsung dengan medan yang tak selalu ramah.
Menyeberangi sungai dengan arus yang bisa berubah cepat, terutama saat musim penghujan, merupakan risiko yang sering dianggap sebagai bagian dari “resiko kerja”. Kejadian ini memantik pertanyaan mengenai mitigasi risiko dan infrastruktur penyeberangan sederhana di pedesaan terpencil.
Sementara keluarga besar Gustimar sedang berduka, masyarakat sekitar pun turut merasakan kehilangan. Tragedi ini meninggalkan duka dan renungan tentang bagaimana menjaga keselamatan di tengah ketergantungan pada alam yang tak terelakkan. (EF)










