PESISIR SELATAN, KABARDAERAH.- Di balik hiruk-pikuk ibukota yang sibuk dengan parade dan upacara, ada cerita berbeda dari ujung barat Sumatera. Di halaman PLUT Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan Transmigrasi Kabupaten Pesisir Selatan, asap mengepul tipis dari sederet tungku darurat, aroma ikan bakar bercampur santan kelapa berhembus menggoda, dan di antara kepulan asap itu, puluhan tim dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta instansi vertikal tengah berjibaku dalam lomba memasak yang tak biasa. Mereka tak sekadar mengolah bumbu, tapi meracik semangat kemerdekaan lewat dua kuliner legenda Minangkabau: palai bada dan lamang golek.
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di kabupaten yang akrab disapa Pessel ini memang terasa berbeda. Pemerintah daerah sengaja mengemas perayaan dengan sentuhan kearifan lokal yang menyentuh langsung akar budaya masyarakat. Dan dari sekian rangkaian acara, lomba masak tradisional inilah yang paling menyedot perhatian. Ratusan masyarakat memadati lokasi—berdesakan, menyaksikan, bahkan tak jarang ikut bersorak saat tim kesayangan mereka menunjukkan aksi di depan tungku.
Bagi orang Minang, palai bada dan lamang golek bukanlah hidangan asing. Palai bada—olahan ikan yang dilumuri bumbu kuning kaya kunyit, jahe, dan cabai, lalu dibungkus daun pisang dan dibakar di atas bara—adalah simbol kesederhanaan yang kaya rasa. Sementara lamang golek, ketan yang dimasak dalam ruas bambu bersama santan dan gula aren, adalah cerminan kearifan lokal dalam memanfaatkan alam. Keduanya adalah makanan yang lahir dari dapur-dapur tradisional, turun-temurun, dan kini dihidupkan kembali dalam ajang kompetisi yang meriah.
“Lomba ini sengaja kami angkat bukan karena mudah dimasak, tapi karena nilai filosofisnya,” ujar salah satu panitia yang sibuk memantau jalannya perlombaan. “Palai dan lamang mengajarkan kita tentang kebersamaan, tentang proses, dan tentang kesabaran—nilai-nilai yang juga kita butuhkan dalam membangun bangsa.”
Setiap tim terdiri dari 3-5 orang, dengan pembagian tugas yang rapi. Ada yang bertugas membersihkan ikan, ada yang sibuk mengaduk santan untuk lamang, ada pula yang bertanggung jawab mengatur api agar tetap stabil. Di sinilah kekompakan benar-benar diuji. Sebab, lamang golek yang sempurna membutuhkan perhitungan matang—ketan, santan, dan garam harus pas, api tak boleh terlalu besar atau kecil, dan waktu memasak sekitar 45 menit hingga aroma manis khas tercium.
Di sisi lain, palai bada juga butuh ketelatenan. Ikan yang sudah dibersihkan harus dibalur bumbu hingga meresap, kemudian dibungkus rapat dengan daun pisang dan dipanggang sampai daun mengering dan mengeluarkan aroma gurih yang khas. Setiap tim berusaha menonjolkan ciri khasnya masing-masing—ada yang menambahkan petai untuk rasa pahit-gurih, ada yang menyelipkan daun kunyit untuk aroma lebih segar.
Tak mau ketinggalan, Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Pesisir Selatan mengirimkan tim terbaiknya. Mereka tak hanya mengandalkan resep turun-temurun, tapi juga melakukan riset kecil-kecilan—mencoba berbagai variasi bumbu, mengatur komposisi santan, hingga memilih jenis bambu yang tepat untuk lamang. Koki andalan yang sehari-hari mungkin lebih akrab dengan keyboard dan layar komputer, kali ini berseragam apron dan topi koki, dengan percaya diri menunjukkan keahlian di dapur terbuka.
“Persiapan kami cukup matang, tapi yang lebih penting dari teknik memasak adalah kekompakan tim,” aku salah satu anggota tim Kominfo sambil sesekali mengaduk lamang di atas bara. “Kami belajar banyak dari proses ini—bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang istimewa, dibutuhkan kerja sama, saling percaya, dan komunikasi yang baik. Sama seperti pekerjaan kami sehari-hari, sebenarnya.”
Meskipun persaingan terasa sengit dan setiap tim mengincar piala juara, Kepala Dinas Kominfo Pesisir Selatan, Wendi, dengan tegas mengatakan bahwa esensi lomba ini lebih dalam dari sekadar podium kemenangan.
“Kami ingin mengubah cara pandang tentang perlombaan 17-an. Ini bukan ajang adu gengsi antar-OPD, melainkan ruang untuk saling mengenal lebih dekat, saling belajar, dan tentu saja—mempererat tali silaturahmi,” ungkap Wendi saat ditemui di sela-sela kesibukannya. “Kebetulan, lomba palai dan lamang ini melibatkan hampir seluruh instansi di Pessel. Ini kesempatan langka untuk duduk bersama, tertawa bersama, dan merasakan kebersamaan yang mungkin jarang kita dapatkan di meja rapat.”
Ia menambahkan bahwa tahun ini pemerintah kabupaten sengaja merancang berbagai perlombaan yang tidak eksklusif bagi ASN, tetapi juga membuka ruang partisipasi masyarakat secara luas. “Kami ingin menumbuhkan semangat kebersamaan yang melibatkan seluruh elemen. Karena kemerdekaan bukan milik pemerintah saja—ini milik kita semua. Melalui kegiatan seperti ini, kita juga secara tidak langsung melestarikan budaya daerah yang kian tergerus zaman.”
Lomba palai bada dan lamang golek hanyalah satu dari sekian banyak agenda yang disiapkan untuk memeriahkan HUT ke-81 di Pessel. Rangkaian acara yang berlangsung sepanjang Agustus ini dirancang sedemikian rupa untuk menyentuh berbagai kalangan—dari anak-anak hingga lansia, dari pegiat seni hingga pelaku UMKM.
Lomba Mural di GOR H. Ilyas Yakub menjadi salah satu yang paling dinanti. Dinding beton gedung olahraga berubah menjadi kanvas bagi para seniman lokal untuk menumpahkan imajinasi mereka tentang kemerdekaan. Coretan warna-warni bergambar pahlawan, pemandangan alam Pessel, hingga simbol-simbol persatuan menghiasi dinding, menciptakan galeri terbuka yang bisa dinikmati semua orang.
Fashion Show bertajuk “1001 Pantun” juga menyita perhatian. Peserta tampil dengan busana kreatif berbahan daur ulang, kain tradisional, hingga desain modern, sambil membacakan pantun-pantun bernuansa kemerdekaan. Suasana berubah menjadi panggung hiburan yang menggelitik sekaligus menyentuh, mengingatkan pada tradisi lisan Minangkabau yang sarat dengan pesan moral.
Pasar Rakyat dan Fun Walk melibatkan ratusan warga yang berjalan santai sambil menikmati deretan stan UMKM. Mulai dari makanan ringan, kerajinan tangan, hingga produk pertanian lokal—semuanya tersaji dengan harga ramah di kantong. Ini menjadi momen bagi pelaku usaha kecil untuk mendapatkan eksposur sekaligus memperkenalkan produk unggulan Pessel ke masyarakat luas.
Lomba Tradisional seperti tarik tambang dan pacu tangkelek—perlombaan menggunakan tandu tradisional—tak pernah absen dari daftar acara. Kedua lomba ini selalu mengundang gelak tawa dan semangat kompetisi yang sehat. “Lihat saja, ketika tarik tambang, semua batas-batas formalitas hilang. Yang tersisa hanyalah tawa, keringat, dan kebersamaan,” kata seorang warga yang hadir.
Tak ketinggalan, senam kreasi, donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, dan operasi mata digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat. Ini bukan sekadar acara seremonial, tapi upaya nyata pemerintah untuk hadir di tengah masyarakat dengan program-program yang bermanfaat.
Lomba Kebersihan Kantor dan Lomba Konten Kreator menutup rangkaian acara. Yang pertama mendorong budaya bersih dan rapi di lingkungan kerja, sementara yang kedua memberikan ruang bagi generasi muda untuk menuangkan kreativitas digital dengan tema kemerdekaan—sebuah langkah cerdas untuk merangkul anak muda yang akrab dengan dunia maya.
Di penghujung acara, saat para pemenang lomba palai dan lamang diumumkan, sorak sorai kembali menggema. Tapi bagi Wendi dan seluruh jajaran pemerintah daerah, kemenangan sejati bukanlah piala atau piagam penghargaan. Kemenangan sejati adalah ketika masyarakat dan aparatur sipil duduk berdampingan, saling berbagi cerita dan makanan, serta merasakan getaran kemerdekaan yang sama.
“Semoga seluruh rangkaian kegiatan ini menjadi lebih dari sekadar perayaan tahunan,” kata Wendi dengan nada penuh harap. “Kami berharap ini menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, meningkatkan partisipasi masyarakat, dan tentu saja—menjaga warisan budaya kita agar tetap hidup. Karena pada akhirnya, kemerdekaan yang hakiki adalah ketika kita bisa bersatu padu, saling menghargai, dan bersama-sama membangun Pessel yang lebih baik.”
Di sudut lain, seorang ibu-ibu paruh baya yang datang dengan cucunya tampak tersenyum sambil menikmati sepotong lamang golek yang baru matang. “Rasanya kangen banget, seperti masa kecil dulu,” ujarnya dengan mata berbinar. “Dulu nenek saya sering bikin ini saat Lebaran atau acara adat. Sekarang bisa lihat lagi, dan bahkan cucu saya ikut mencicipi. Ini benar-benar hadiah kemerdekaan yang berharga.”
Malam pun turun di Pesisir Selatan, tapi semangat kemerdekaan tak kunjung padam. Lampu-lampu hias mulai menyala di sepanjang jalan, suara takbir dan lagu-lagu perjuangan masih terdengar dari pengeras suara masjid, dan aroma palai serta lamang masih tersisa di udara—sebuah pengingat bahwa di setiap sudut negeri ini, kemerdekaan dirayakan dengan cara yang berbeda, tapi dengan semangat yang sama: kebersamaan, gotong royong, dan cinta tanah air. (EF)












