Oleh :Talis Hidayatul Humah. NIM: 2501041020
Fakultas: Ilmu Kesehatan. Prodi: S1 Kebidanan. Universitas Dharmas Indonesia
Dosen Pengampu : Dr.Amar Salahuddin, M.Pd
Media sosial sudah jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, kita scroll Instagram, buka Twitter, atau nonton TikTok.
Di antara konten hiburan yang kita konsumsi, ada juga banyak informasi kesehatan yang beredar.
Masalahnya, nggak semua informasi itu benar. Bahkan, banyak yang justru menyesatkan dan berbahaya kalau dipraktikkan.
Hoaks medis di media sosial bukan hal baru, tapi penyebarannya makin masif. Dari mulai klaim obat ajaib yang bisa menyembuhkan segala penyakit, tips kesehatan yang katanya ampuh padahal nggak ada dasarnya, sampai teori konspirasi soal vaksin.
Semua itu beredar dengan cepat, dibagikan ribuan kali, dan sayangnya banyak yang percaya begitu saja tanpa cek kebenarannya dulu.
Kenapa hoaks medis begitu mudah menyebar? Pertama, karena tampilannya seringkali meyakinkan. Video yang dikemas apik, testimoni yang terdengar mengharukan, atau klaim yang dibungkus dengan istilah-istilah medis yang terdengar ilmiah.
Kedua, manusia punya kecenderungan untuk percaya pada informasi yang sesuai dengan keyakinan atau harapan mereka.
Kalau seseorang lagi desperately mencari solusi untuk penyakitnya, mereka jadi lebih gampang percaya sama klaim pengobatan yang terdengar menjanjikan, meskipun belum tentu benar.
Ketiga, algoritma media sosial justru mendorong penyebaran konten viral, termasuk hoaks, karena konten yang kontroversial atau sensasional cenderung.
Dampak dari hoaks medis ini nggak main-main. Ada yang menunda pengobatan medis yang seharusnya segera dilakukan karena lebih memilih “pengobatan alternatif” yang dijanjikan di media sosial.
Ada juga yang mengonsumsi obat atau ramuan tertentu yang justru membahayakan kesehatannya.
Dalam kasus yang lebih luas, hoaks tentang vaksin misalnya, bisa menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi dan berdampak pada kesehatan publik secara keseluruhan.
Di sinilah pentingnya literasi kesehatan digital. Literasi kesehatan digital bukan sekadar kemampuan menggunakan internet atau media sosial, tapi kemampuan untuk mencari, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi kesehatan secara kritis dan bertanggung jawab.
Dengan literasi kesehatan digital yang baik, kita bisa jadi konsumen informasi yang lebih cerdas dan nggak gampang terpengaruh hoaks.
Lalu, bagaimana caranya kita menangkal hoaks medis di media sosial? Ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan.
Pertama, cek sumbernya. Informasi kesehatan yang kredibel biasanya berasal dari lembaga kesehatan resmi seperti Kementerian Kesehatan, rumah sakit ternama, atau jurnal medis yang sudah diakui.
Kalau sumbernya akun pribadi yang nggak jelas kredensialnya atau website yang nggak pernah kita dengar, kita perlu lebih waspada.
Kedua, perhatikan cara penyampaian informasinya. Hoaks medis biasanya punya ciri khas tertentu: klaim yang terlalu bagus untuk jadi kenyataan seperti “sembuh 100% dalam 3 hari”, menggunakan testimoni tanpa bukti medis, menciptakan rasa panik atau urgensi “segera lakukan sebelum terlambat!”, atau mengklaim bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit sekaligus.
Ketiga, cross-check dengan sumber lain. Jangan puas dengan satu informasi saja. Cari tahu apakah ada lembaga kesehatan resmi atau ahli medis yang membahas topik yang sama.
Kalau informasinya benar, biasanya akan ada konfirmasi dari berbagai sumber terpercaya. Sebaliknya, kalau hanya beredar di grup WhatsApp atau postingan viral tanpa ada rujukan ke sumber kredibel, kemungkinan besar itu hoaks.
Keempat, konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional. Ketika menemukan informasi kesehatan yang ingin kita praktikkan, terutama yang berkaitan dengan pengobatan, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter. Tenaga kesehatan profesional punya pengetahuan dan pengalaman yang lebih mumpuni untuk menilai apakah suatu informasi medis itu valid dan aman untuk kondisi kesehatan kita.
Selain upaya individual, peran berbagai pihak juga penting dalam menangkal hoaks medis. Pemerintah perlu terus aktif menyebarkan informasi kesehatan yang benar dan mudah dipahami masyarakat.
Platform media sosial harus lebih ketat dalam memoderasi konten kesehatan yang menyesatkan.
Tenaga kesehatan dan influencer dengan jangkauan luas bisa berperan dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya literasi kesehatan digital.
Pada akhirnya, kesehatan adalah hal yang terlalu berharga untuk diserahkan pada informasi yang nggak jelas kebenarannya.
Dengan meningkatkan literasi kesehatan digital kita, kita nggak cuma melindungi diri sendiri tapi juga orang-orang di sekitar kita.
Karena setiap kali kita nggak membagikan hoaks atau malah mengoreksinya dengan informasi yang benar, kita sudah berkontribusi dalam memutus rantai penyebaran informasi yang menyesatkan. Mari jadi konsumen informasi yang lebih cerdas dan kritis, demi kesehatan kita










