Oleh: Aldoris Armialdi (Pimpinan Perusahaan Kabardaerah.com)
Kabar tentang meninggalnya Aziz Man alias Pak Uwo di sebuah kantor pemasaran perumahan di kawasan Batu Paek, Saruaso, Kabupaten Tanah Datar, meninggalkan duka yang mendalam. Seorang suami, seorang ayah dari lima anak, ditemukan mengakhiri hidupnya sendiri.
Dugaan sementara menyebutkan bahwa ada dugaan persoalan utang yang menjadi pemicu utama tindakan tragis tersebut.
Pertanyaannya, ketika seseorang merasa kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari tekanan ekonomi, siapa yang harus bertanggung jawab?
Tentu, keputusan mengakhiri hidup adalah keputusan pribadi yang tidak bisa serta-merta dibebankan kepada satu pihak tertentu.
Namun di balik setiap tragedi seperti ini, ada persoalan sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar pilihan individu. Ada sistem yang mungkin gagal memberikan harapan, ada lingkungan yang mungkin gagal memberi pertolongan, dan ada negara yang seharusnya hadir sebelum semuanya terlambat.
Di banyak daerah, termasuk di Sumatera Barat, khususnya di Tanah Datar, praktik pinjaman berbunga tinggi atau yang dikenal masyarakat sebagai rentenir masih tumbuh subur. Mereka hadir ketika masyarakat kesulitan mengakses perbankan, membutuhkan uang cepat untuk kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan, biaya kesehatan, hingga modal usaha.
Ada yang tumbuh secara dadakan, dengan modal Rp 10 juta, mereka sudah bisa mengambil keuntungan 20% setiap minggu. Dan ada yang menjalar ke lingkungan kelompok masyarakat, terutama kelompok kaum wanita, mereka cenderung masuk melalui para IRT.
Awalnya tampak seperti pertolongan. Namun ketika bunga terus bertambah, tagihan membengkak, dan tekanan datang setiap hari, banyak yang akhirnya terjebak dalam lingkaran utang yang tidak berujung. Tidak sedikit rumah tangga yang retak, usaha yang bangkrut, bahkan nyawa yang melayang akibat tekanan ekonomi yang semakin menghimpit.
Lalu di mana pemerintah?
Pertanyaan ini penting untuk diajukan, bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan sebagai evaluasi bersama. Apakah program pemberdayaan ekonomi masyarakat sudah benar-benar menyentuh warga yang paling membutuhkan?
Apakah akses permodalan murah sudah tersedia hingga ke lapisan masyarakat bawah?
Apakah pemerintah daerah memiliki sistem pendampingan bagi keluarga yang mengalami tekanan ekonomi dan psikologis akibat utang?
Kita sering mendengar program pengentasan kemiskinan, bantuan UMKM, hingga kredit usaha rakyat. Namun fakta bahwa masih ada warga yang diduga memilih mengakhiri hidup karena terlilit utang menunjukkan bahwa masih terdapat celah besar yang belum terisi.
Pemerintah tidak cukup hanya membangun jalan, jembatan, atau gedung. Pemerintah juga memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan masyarakatnya tidak kehilangan harapan hidup akibat persoalan ekonomi. Para pemimpin, ulama, ninik mamak harus hadir bukan hanya setelah tragedi terjadi, tetapi sebelum tragedi itu lahir.
Pemerintah daerah bersama lembaga keuangan resmi perlu lebih agresif menghadirkan alternatif pembiayaan yang mudah, murah, dan manusiawi, dan yang tidak muluk muluk.
Edukasi literasi keuangan harus diperluas hingga ke tingkat nagari dan jorong. Di saat yang sama, pengawasan terhadap praktik pinjaman yang mencekik masyarakat juga harus diperketat.
Lebih dari itu, kita sebagai masyarakat juga tidak boleh menutup mata. Tekanan ekonomi sering kali berjalan beriringan dengan tekanan mental. Banyak orang memilih diam saat menghadapi masalah keuangan karena malu dianggap gagal.
Padahal, terkadang yang mereka butuhkan hanyalah seseorang yang mau mendengar dan membantu mencarikan jalan keluar.
Kepergian Aziz Man tentu menyisakan luka yang tidak akan mudah sembuh bagi keluarga yang ditinggalkan. Namun jika tragedi ini hanya berakhir sebagai berita duka tanpa refleksi dan tindakan nyata, maka kita semua telah gagal mengambil pelajaran.
Sebab pada akhirnya, ketika seorang warga merasa tali lebih menjanjikan daripada masa depan, yang harus dipertanyakan bukan hanya kondisi korban, melainkan juga kondisi masyarakat yang membiarkan harapan itu hilang sedikit demi sedikit.
Semoga, Nando – Nando lain bisa lebih memiliki iman dan taqwa yang lebih dalam lagi, dan bisa merenung sebelum memilih seutas tali. (dby)












