MENGAPA PENDIDIKAN PEREMPUAN SERINGKALI “SEKEDAR”SAMPINGAN

Dosen Pengampu :
Dr. Amar Salahuddin, M.Pd

Disusun oleh :
Nama : Avrillia rahma wati
Nim : 2501011060
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA TAHUN 2026

 

Di tengah gerakan kesetaraan gender yang semakin berkembang, pendidikan perempuan masih sering dipandang sebagai hal yang “sekedar” sampingan di berbagai konteks, termasuk di Indonesia. Fenomena ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan akibat perpaduan nilai budaya yang tertanam, struktur sosial yang tidak seimbang, dan tantangan ekonomi yang menekan.

Sebagai mahasiswa keperawatan di kampus bahasa Indonesia, saya melihat bahwa memahami akar masalah ini adalah langkah awal untuk mengubah paradigma yang merendahkan peran pendidikan perempuan-terutama di bidang keperawatan, di mana perempuan mendominasi tapi seringkali kurang mendapatkan pengakuan atas pendidikan dan kontribusinya.

Nilai budaya patriarki yang mendalam menjadi landasan utama mengapa pendidikan perempuan dianggap tidak penting. Di banyak daerah di Indonesia, terutama di pedesaan, masih berlaku pandangan bahwa peran utama perempuan adalah mengurus rumah tangga dan mengasuh keluarga.

Konsep “wanita harus pintar memasak, bukan pintar membaca” masih terngiang-ngiang, termasuk dalam konteks pendidikan keperawatan. Misalnya, di beberapa desa di Bantul, Yogyakarta, perempuan yang ingin melanjutkan studi keperawatan ke perguruan tinggi sering dihalangi oleh orang tua dengan alasan bahwa mereka akan segera menikah dan pendidikan keperawatan hanya “untuk mengasuh orang” tanpa nilai karir yang nyata.

Nilai ini membuat pendidikan perempuan di keperawatan hanya menjadi “pelengkap” daripada investasi untuk membangun karir profesional yang berkelanjutan.

Selain itu, norma sosial yang mengutamakan kesuksesan laki-laki dalam pendidikan dan karir juga memperkuat pandangan bahwa perempuan hanya perlu cukup pendidikan keperawatan untuk memenuhi peran domestik, bukan untı ruangan atau peneliti.
Struktur sosial yang tidak seimbang juga berkontribusi pada marjinalkan pendidikan perempuan di keperawatan. Akses terhadap fasilitas pendidikan keperawatan yang layak seringkali lebih sulit untuk perempuan, terutama di daerah terpencil. Jarak kampus yang jauh, kurangnya fasilitas keamanan perjalanan, dan kurangnya dosen perempuan menjadi hambatan.

Di samping itu, representasi perempuan dalam lembaga pengambilan keputusan pendidikan keperawatan juga sangat terbatas.

Sebagian besar kepala jurusan, dekan, atau pejabat pendidikan di tingkat lokal dan nasional adalah laki-laki, sehingga kebijakan yang dibuat seringkali tidak mempertimbangkan kebutuhan khusus perempuan mahasiswa keperawatan.

Misalnya, jadwal praktik klinis yang tidak mempertimbangkan kebutuhan perempuan untuk membantu pekerjaan rumah tangga, atau kurangnya program beasiswa yang ditujukan khusus untuk perempuan di bidang keperawatan terapan dan penelitian.

Hal ini membuat pendidikan perempuan di keperawatan sulit mendapatkan perhatian dan dukungan yang cukup.
Tantangan ekonomi juga menjadi faktor penting yang membuat pendidikan perempuan di keperawatan menjadi sampingan.

Banyak keluarga miskin di Indonesia lebih memilih mengirim anak laki-laki ke sekolah daripada perempuan, karena mereka menganggap laki-laki akan menjadi pencari nafkah utama. Biaya pendidikan keperawatan yang semakin meningkat-termasuk biaya praktik dan peralatan-juga membuat keluarga harus membuat pilihan yang sulit.

Perempuan seringkali harus mengorbankan studi keperawatan untuk membantu keluarga dalam pekerjaan ekonomi, seperti menjual barang di pasar atau mengurus saudara yang lebih muda. Selain itu, meskipun perempuan mendominasi tenaga keperawatan, tingkat gaji dan promosi yang lebih rendah dibandingkan laki-laki di posisi yang sama juga membuat beberapa orang berpendapat bahwa pendidikan perempuan di keperawatan tidak sepadan dengan investasi.

Padahal, penelitian menunjukkan bahwa perempuan perawat yang berpendidikan tinggi cenderung memberikan pelayanan yang lebih baik, meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Meskipun terdapat berbagai hambatan, tidak dapat disangkal bahwa pendidikan perempuan di keperawatan memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan negara.

Perempuan perawat yang berpendidikan dapat berkontribusi dalam berbagai bidang, seperti perawatan pasien, penelitian kesehatan, pengembangan kebijakan, dan pendidikan tenaga kesehatan.

Mereka dapat menjadi contoh bagi generasi muda perempuan dan membantu mengubah pandangan sosial yang merendahkan peran perempuan di keperawatan.

Di kampus bahasa Indonesia, saya melihat banyak perempuan mahasiswa keperawatan yang berjuang untuk mengejar pendidikan, mengembangkan keterampilan klinis dan komunikasi, serta berusaha untuk mencapai impian menjadi perawat yang kompeten dan berpengaruh.

Hal ini menunjukkan bahwa potensi perempuan di keperawatan sangat besar, hanya perlu dukungan dan kesempatan yang cukup untuk berkembang.
Untuk mengubah kondisi di mana pendidikan perempuan di keperawatan seringkali menjadi sampingan, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak.

Pemerintah harus membuat kebijakan yang lebih inklusif, seperti meningkatkan akses ke fasilitas pendidikan keperawatan, memberikan beasiswa khusus untuk perempuan, dan meningkatkan representasi perempuan dalam lembaga pengambilan keputusan pendidikan kesehatan.

Masyarakat juga harus mengubah nilai budaya yang patriarki dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan perempuan di keperawatan.

Keluarga harus memberikan dukungan yang sama kepada anak perempuan dan laki-laki dalam mengejar studi keperawatan. Selain itu, perguruan tinggi keperawatan juga harus menyediakan lingkungan yang mendukung, seperti menyediakan fasilitas keamanan, program bimbingan karir, dan kesempatan untuk terlibat dalam penelitian dan pengembangan layanan kesehatan.
Kesimpulannya, pendidikan perempuan-terutama di bidang keperawatan-seringkali dianggap “sekedar” sampingan akibat perpaduan nilai budaya, struktur sosial, dan tantangan ekonomi. Namun, peran pendidikan perempuan di keperawatan dalam pembangunan negara sangat penting dan tidak dapat diabaikan.

Dengan upaya bersama dari pemerintah, masyarakat, keluarga, dan perguruan tinggi, kita dapat mengubah paradigma ini dan memberikan kesempatan yang sama kepada perempuan untuk mengejar pendidikan keperawatan dan mencapai potensi mereka.

Di kampus bahasa Indonesia, saya berharap dapat berkontribusi dalam gerakan ini dengan mempromosikan kesadaran tentang pentingnya pendidikan perempuan di keperawatan dan mendukung teman-teman perempuan dalam mengejar impian menjadi perawat yang berkelas dan berpengaruh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *