Tanah Datar // kabardaerah.com
Setelah tiga hari pertama berada dalam situasi tersulit pasca banjir, banjir bandang, dan longsor, penanganan bencana di Tanah Datar mulai menunjukkan perbaikan signifikan. Akses yang sebelumnya terputus, terutama di Nagari Sumpur, Padang Laweh Malalo, dan Guguak Malalo, kini sudah berangsur membaik sehingga upaya evakuasi dan distribusi bantuan semakin cepat dilakukan.
Hal itu disampaikan Bupati Tanah Datar, Eka Putra, saat menjadi narasumber Program Pro 1 RRI Padang, Selasa (2/12), dalam dialog bertema Sumbar Darurat Bencana. Ia hadir bersama jajaran kunci: Asisten II Ten Feri, Kadis Kominfo Dedi Tri Widono, Kadis Kesehatan Aries Sumantri, dan Sekretaris BPBD.
“Di hari-hari awal, warga kami benar-benar terisolasi karena jalur darat terputus. Satu-satunya cara membantu adalah melalui jalur air, menggunakan kapal dan boat,” jelas Eka Putra. Kapal-kapal itu menjadi harapan utama untuk mengirim bantuan dan mengevakuasi warga ke posko yang didirikan di Nagari Batu Taba serta sejumlah titik aman lain di nagari sekitar.
Pergerakan pengungsian terus berlangsung. Data sementara menyebutkan 6.418 warga mengungsi, tersebar di 11 kecamatan dan 35 nagari terdampak. Eka Putra berharap siaran tersebut membantu menyebarkan informasi bahwa Tanah Datar juga berada dalam kondisi darurat dan membutuhkan dukungan luas.
Dalam dialog itu, Eka menegaskan bahwa seluruh unsur daerah bergerak tanpa jeda. “Kami bekerja bersama—Dandim, Polres, BPBD, Dinas Kesehatan, Satgas hingga relawan—semua turun untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi,” ujarnya. Setiap hari ia memimpin peninjauan langsung untuk memastikan makanan, air bersih, serta kebutuhan ibu dan bayi tersalurkan tepat sasaran.
Bupati juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah provinsi, daerah tetangga, pihak swasta, serta para perantau yang terus mengalirkan bantuan. Banyaknya dukungan yang masuk, menurutnya, menjadi energi moral bagi masyarakat yang tengah berjuang bangkit. “Semoga bantuan ini terus mengalir dan musibah ini segera berlalu,” tuturnya.
Hingga Senin (1/12/2025) sore, data kerusakan yang tercatat meliputi 67 rumah hanyut, 131 rumah rusak berat, 29 ruas jalan rusak parah, 20 jembatan putus, 33 irigasi rusak, dengan korban meninggal mencapai 3 orang dan 1 orang masih hilang.
Di tengah luka dan kelelahan, perbaikan akses dan kerja bersama lintas sektor memberi sinyal bahwa Tanah Datar kini bergerak ke fase penanganan yang lebih stabil—fase di mana nyawa, harapan, dan masa depan warga kembali diperjuangkan dengan seluruh kekuatan yang tersedia(B.Doys)












