Jejak Terakhir di Balik Lumpur: Penantian Panjang Keluarga M. Rusdi Berakhir di Hari Ketujuh

Tanah Datar // kabardaerah.com

Deru alat berat dan suara komando relawan yang setiap hari memecah sunyi Jorong Pincuran Tujuah, Rabu (3/12), akhirnya mereda ketika satu kabar yang sejak lama ditunggu muncul dari kedalaman material longsor. Setelah tujuh hari pencarian yang melelahkan dan penuh ketegangan, M. Rusdi (55) ditemukan tak bernyawa di kedalaman sekitar tiga meter—menutup babak pencarian yang paling menguras emosi bagi masyarakat Nagari Batipuah Baruah.

Sejak Kamis (28/11), ketika longsor besar menerjang kawasan pemukiman itu, keluarga dan warga tidak pernah beranjak jauh dari lokasi bencana. Setiap hari mereka menyaksikan bagaimana lumpur pekat, bebatuan besar, serta hujan yang tak henti menggagalkan upaya pencarian. Meski demikian, tim gabungan terus kembali, berkutat dengan risiko tanah susulan dan kondisi medan yang hampir tak bersahabat.

Ketegangan berubah menjadi keheningan ketika satu teriakan relawan memecah udara: titik korban ditemukan. Dalam hitungan menit, suasana yang sebelumnya riuh berubah menjadi ruang penuh doa. Para relawan bekerja hati-hati mengevakuasi jenazah, sementara keluarga hanya mampu memandangi dari jarak aman, menahan sesak yang sulit dibendungi.

Wali Nagari Batipuah Baruah, Mulyadi BJ, menyebut penemuan jenazah M. Rusdi sebagai bukti komitmen dan kerja bersama yang tidak pernah goyah sejak hari pertama.
“Jenazah ditemukan sekitar pukul 09.20 WIB pada kedalaman tiga meter. Prosesnya sangat berat. Namun berkat sinergi semua unsur, kita bisa memberikan kepastian kepada keluarga,” ujarnya dengan suara yang tampak menahan haru.

Ia menegaskan, seluruh upaya ini tidak akan berhasil tanpa gotong royong berbagai pihak.
“Saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Daerah, BPBD, TNI-Polri, relawan, tim SAR gabungan, dan seluruh masyarakat. Mereka hadir bukan hanya dengan tenaga, tapi juga dengan ketulusan,” lanjutnya.

Penemuan ini sekaligus menutup operasi pencarian di titik longsor tersebut. Namun luka yang ditinggalkan bencana tak akan hilang dalam waktu dekat. Bagi keluarga dan warga Pincuran Tujuah, kepergian M. Rusdi menjadi duka yang membekas, sekaligus pengingat tentang rapuhnya kehidupan di tengah ancaman bencana alam.

Jenazah kemudian dibawa ke rumah sakit dan seterusnya dimakamkan sesuai adat setempat. Di tengah kabut yang mulai turun sore itu, warga kembali berkumpul—mendoakan almarhum dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan. Dalam diam, mereka berjanji untuk saling menjaga, sekuat tanah yang kini sedang mereka perjuangkan untuk pulih (B.Doys)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *