Tanah Datar // kabardaerah.com
Dari balik suara gemuruh alat berat yang terus bekerja tanpa henti, ada harapan baru yang perlahan dibangun: harapan untuk kembali terhubung. Pasca banjir dan banjir bandang yang memutus akses antara Nagari Sumpur, Nagari Padang Laweh Malalo, dan Nagari Guguak Malalo, Bupati Tanah Datar Eka Putra, SE, MM turun langsung ke lapangan pada Kamis (04/12) memastikan pemulihan tidak hanya berlangsung, tetapi dipercepat.
Bukan sekadar meninjau, Bupati Eka Putra memastikan para operator alat berat, relawan, hingga aparat di lokasi mendapatkan arahan langsung. Normalisasi Sungai Batang Sumpur, pengerjaan jalan temporer di Nagari Sumpur, serta pembuatan jembatan darurat di Jorong Baiang menjadi fokus utama. Semua itu dilakukan demi satu tujuan: mengakhiri isolasi yang telah mengurung masyarakat Malalo berhari-hari.
Selama masa darurat, akses ke tiga nagari tersebut hanya bisa ditempuh lewat Danau Singkarak—jalur yang tidak ideal untuk mobilisasi logistik maupun bantuan medis. Karena itulah, Bupati menegaskan pengerjaan jalan temporer dan normalisasi sungai harus berjalan secepat mungkin.
“Kita sudah melihat langsung proses pemindahan aliran sungai dan pembangunan jalan sementara. Jika akses ini tembus, tidak ada lagi warga Malalo yang terisolasi,” tegas Eka Putra.
Ia juga menyampaikan bahwa satu unit ekskavator tambahan telah dikirimkan, melengkapi tiga unit yang sudah bekerja di lapangan.
Pemulihan fisik ini bukan sekadar perbaikan infrastruktur, tetapi juga penanda bahwa kehidupan masyarakat harus kembali bergerak. “Pemerintah daerah akan bekerja maksimal agar daerah ini pulih dan bangkit. Jalan pulih, sungai kembali normal, ekonomi bisa berputar,” tambahnya.
Sampai hari ini, dua unit ekskavator milik Pemda masih bekerja membuka akses dan membersihkan material banjir. Sejumlah relawan dari BPBD, TNI, Polri, PMI, hingga masyarakat bahu-membahu membersihkan sisa-sisa galodo yang menimbun jalan dan rumah warga.
Usai meninjau sungai, Bupati bersama Asisten II Ten Feri, serta Kabag Prokopim Roza Melfita, S.STP, berpindah ke Jorong Baiang. Di sana, jembatan yang hanya bisa dilalui motor dan pejalan kaki menjadi pekerjaan darurat berikutnya. Eka Putra memastikan alat berat akan dikerahkan untuk membangun jembatan sementara yang dapat dilewati kendaraan roda dua dan empat.
“Jorong Baiang tidak boleh terus terisolir. Kita pastikan jembatan darurat segera bisa digunakan,” ujar Bupati.
Dengan langkah-langkah cepat ini, Pemerintah Daerah menegaskan komitmennya: akses vital masyarakat tidak boleh terhenti meski bencana merusak banyak hal. Dari pemindahan aliran sungai hingga jembatan darurat, satu pesan yang muncul jelas—Tanah Datar tidak membiarkan warganya berjalan sendiri dalam masa pemulihan(BDoys)












