Tanah Datar// kabardaerah.com
Di tengah luka yang masih terasa pasca bencana galodo, masyarakat Nagari Pangian memilih untuk tidak tenggelam dalam kepedihan. Mereka bangkit bersama, menggerakkan solidaritas, dan menegaskan kembali bahwa gotong royong bukan sekadar tradisi—tetapi nafas yang membuat sebuah nagari tetap berdiri.
Pemerintahan Nagari Pangian bersama Satgas Penanggulangan Bencana dan masyarakat setempat kembali turun ke lokasi terdampak untuk memulihkan fasilitas dasar warga pada Sabtu(6/12). Dua fokus utama ditangani: perbaikan jaringan air bersih yang rusak akibat terjangan banjir bandang, serta pembersihan rumah-rumah yang dipenuhi endapan material galodo.
Bagi warga, air bersih bukan sekadar kebutuhan harian. Dalam situasi darurat, fungsinya berubah menjadi penopang pemulihan: dari mandi, memasak, hingga membersihkan sisa-sisa bencana. Kerusakan jaringan air bersih beberapa hari terakhir membuat banyak keluarga harus bertahan dengan persediaan terbatas. Karena itu, percepatan perbaikannya menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda.
Di lapangan, semangat kebersamaan tampak menyatukan segala perbedaan. Anak muda, orang tua, relawan, hingga perangkat nagari bekerja berdampingan. Beberapa membersihkan lumpur di dalam rumah warga, sebagian lain memperbaiki pipa dan saluran air, sementara kelompok lain membuka jalur yang tertimbun material batu dan ranting.
Wali Nagari Pangian, Hijrah Adi Sukrial, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas energi kolektif yang terus mengalir sejak hari pertama bencana.
“Di saat seperti ini, yang kita butuhkan bukan hanya bantuan material, tetapi kekuatan untuk saling menguatkan. Terima kasih kepada seluruh masyarakat dan relawan yang tidak pernah lelah berdiri bersama kami. Semoga kebersamaan ini menjadi penguat bagi seluruh penyintas untuk bangkit,” ujarnya.
Meski proses pemulihan masih panjang, langkah-langkah kecil yang dilakukan hari ini membawa harapan baru. Pangian menunjukkan bahwa ketika tangan-tangan bekerja bersama, bangkit bukan sekadar kemungkinan—melainkan kepastian yang perlahan diwujudkan.
Di tengah sisa lumpur dan puing, satu hal kembali berdiri kokoh: kemanusiaan yang saling menjaga(BDoys)












